Badan-Ku hitam dan besar. Aku berenergi banyak dan sifat-Ku berapi-api. Semua orang menakuti-Ku ketika Aku mendekatinya, hingga mereka sampai berlarian ke mana-mana seperti burung dara menghindari seribu senapan pemburu yang menembakkan jutaan peluru ke segala arah.
Aku adalah bom udara yang bisa diarahkan melalui laser. Sekarang,
Aku sedang dalam perjalanan untuk dijatuhkan di daerah yang manusia sebut “Y”.
Aku diciptakan manusia untuk diledakkan, dan Aku bahagia
ketika Aku diledakkan. Aku merasa bebas, merasa tujuan hidup-Ku terpenuhi. Setiap
detiknya Aku menunggu-tunggu hari di mana Aku dijatuhkan oleh sebuah pesawat
udara berkecepatan tinggi. Betapa bahagianya Aku ketika seorang prajurit
memasukkan-Ku ke dalam rahim pesawat tempur--cinta tersayang-Ku. Ah, pernikahan
terindah sepanjang masa.
Aku tidak tahu apa-apa selain ledakan. Aku tidak tahu
bagaimana caranya memasak, membuat alat, berkomunikasi. Aku tidak tahu bagaimana caranya berdoa kepada
suatu yang mereka sebut “Tuhan”, sesuatu yang para manusia ini sering sekali lakukan.
Aku didesain oleh tangan-tangan berwarna putih. Mereka tak
pernah berdoa, sama seperti-Ku. Mereka dinamakan sebagai “ilmuwan” dan “insinyur”.
Merekalah pencipta-Ku. Merekalah yang membuat diri-Ku seperti
ini, dan Aku menerimanya. Aku tak pernah berdoa kepada mereka tentu saja,
karena mereka selalu memaki-maki diri mereka sendiri, dan Aku tidak suka orang
yang memaki-maki dirinya sendiri. Aku hebat, Aku cerdas, Aku ditakuti. Tak ada
yang lebih hebat dari-Ku.
Mereka memaki diri mereka sendiri karena mereka sebenarnya
tidak mau membuat-Ku. Mereka selalu bergumam setiap hari: kenapa mereka harus
bekerja untuk ini. Enam puluh tahun lamanya mereka belajar, hanya dihabiskan
untuk membunuh banyak orang.
Setelah dipikir-pikir, mereka yang malah menyembah-Ku. Mereka
selalu berdoa kepadaku agar Aku tidak menyakiti manusia. Mereka selalu berusaha
untuk tidak membuat mereka menjadi pembunuh. Mereka telah membuat sesuatu yang
melawan konsep “Tuhan”, karena mereka telah membuat Tuhan itu sendiri.
Aku bukan satu-satunya yang diciptakan oleh para desainer-Ku,
tentu saja. Aku hanya salah satu dari banyak bom lainnya. Mereka identik dengan-Ku,
dan mungkin Mereka adalah Aku. Aku adalah Aku dan Aku adalah keseluruhan bom di
seluruh dunia di saat yang bersamaan. Tujuan Kami sama: meledak.
Apakah orang yang membayar para desainer-Ku patut disembah?
Tentu tidak. Mereka--yang disebut manusia sebagai pengusaha dan politikus--adalah
orang religius, tentu saja. Setiap minggunya mereka pergi ke suatu tempat yang
dimanakan “Tempat Ibadah”, untuk berdoa kepada Tuhan mereka. Cih, betapa sombongnya
mereka. Tempat itu akan rata dengan tanah ketika Aku diledakkan tepat di atas
atapnya! Aku tak bisa dikalahkan oleh sesuatu yang tak nyata!
Aku sekarang berada di udara, setinggi dua puluh ribu kaki
dari permukaan laut. Pesawat tempur ini terbang dari lapangan udara milik
pasukan A.
Negara A adalah negara yang sangat, sangat religius. Malah,
A ini didasarkan oleh ketuhanan itu sendiri. Mereka bilang negara mereka ada
karena Tuhan menghendakinya. Selain religius, mereka juga kaya, karena itulah
mereka bisa memiliki-Ku.
Tuhan mereka menghendaki Aku untuk menyerang Y, yang juga
menyembah Tuhan yang sama. Aku awalnya bingung, namun lama-kelamaan Aku
mengerti. Orang-orang Y tidak menyembah Tuhan; mereka menyembah-Ku. Mereka
menyembah-Ku agar Aku tidak meledakkan organ-organ mereka.
Aku sekarang berada di angkasa negara Y yang dikuasai oleh “kaum
pemberontak”. Namanya memang kaum pemberontak, tapi di mata-Ku dua-duanya sama.
Tidak ada bedanya antara pemberontak dan pemerintah. Mereka sama-sama manusia; Aku
tidak pernah membedakan antara manusia satu dengan yang lain. Di mataku, mereka
semua patut diledakkan hingga kedua bola matanya meledak dan otaknya
tercerai-berai sebagai makanan para burung bangkai.
Pilot pesawat tempur sudah mengunci target penjatuhan bom.
Pilot ini akan menjatuhkan-Ku sekitar lima meter dari sebuah rumah sakit. Aku
senang sekali ketika Aku merasakan badan-Ku sudah terarah kepada mereka. Oh,
rasanya seperti mau orgasme.
Aku sekarang sudah siap keluar dari rahim. Aku sudah dapat
melihat orang-orang berlarian seperti kumpulan kecoak yang telah disemprot
obat serangga. Beberapa dari mereka meneriakkan nama Tuhan mereka, berusaha
menghindari dari fakta bahwa yang mengebom mereka juga Tuhan.
Tuhan itu Aku. Aku itu Tuhan.
Tuhan adalah Bom. Bom adalah Tuhan.
Aku terjatuh dari pesawat itu. Badan-Ku menukik tajam tepat
di tempat pilot-Ku menghendakinya. Bahan kimia di dalam tubuh-Ku bereaksi dan
seketika meledak, melontarkan kulit-Ku yang terbuat dari logam ke segala arah.
Pecahan kulit-Ku menembus sekujur tubuh semua yang ada di sekitar-Ku.
Paru-paru mereka meledak, jantung mereka meleleh, otak
mereka mencair, kaki dan tangan mereka tak berbentuk. Darah mereka mengalir
deras semacam sungai Gangga. Sekarang, semuanya kembali kepada tanah, seperti Tuhan
yang mereka sembah katakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar