FORTUNE PLANGO VULNERA
STILLANTIBUS OCELLIS
QUOD SUA MIHI MUNERA
SUBTRAHIT REBELLIS
VERUM EST QUOD LEGITUR
FRONTE CAPILLATA
SED PLERUMQUE SEQUITUR
OCCASIO CALVATA
STILLANTIBUS OCELLIS
QUOD SUA MIHI MUNERA
SUBTRAHIT REBELLIS
VERUM EST QUOD LEGITUR
FRONTE CAPILLATA
SED PLERUMQUE SEQUITUR
OCCASIO CALVATA
Aku meratapi
luka Fortuna
dengan tangisan,
karena hadiah
yang ia berikan
diambil
kembali.
Telah ditulis
dalam kebenaran,
Bahwa yang
berambut indah,
kadang diikuti
dengan
kebotakan.
TAK terbayang olehku bahwa yang seperti ini dapat
terjadi. Semua yang pernah kudapat, seketika hilang. Semuanya. Hartaku, keluargaku,
martabatku, rakyatku. Semua pergi menjauhiku layaknya ular di permukiman. Semua
ingin melihatku terbunuh dengan kepala terpenggal dan tubuh yang telah dikuliti.
Mereka ingin membakar sarangku, menyatai anak dan istriku, dan tentu saja
memakan kami dengan lahap, dimasak di atas sarang kami sendiri.
Terus menerus kusesali tentang apa yang telah aku
lakukan. Istriku menangis sampai matanya semerah darah. Tangisan dan
teriakannya dapat terdengar di seluruh penjuru istana. Semua pelayan telah
pergi, karena mereka memilih untuk meninggalkan istriku dibanding harus
mendengar suaranya yang terdengar seperti ribuan pisau yang mengikis ribuan
gelas. Anak-anakku tidak lebih baik. Mereka tak puas, dan apabila mereka tak
puas, barang-barang pecah-belah dihancurkan mereka. Mulai dari vas bunga dari
kerajaan timur sampai mangkok dari kerajaan barat, semuanya dipecahkan oleh
mereka. Yang dulu tak ternilai, sekarang sudah tak berbentuk lagi. Mereka
langsung pergi meninggalkanku bersama cucu-cucuku.
Pelayan-pelayanku tadi? Oh, mereka mengambil
kesempatan. Mereka mengambil emas yang kusimpan di dalam ruang rahasia. Mereka
masing-masing mengisi seluruh kantung-kantung dan tas-tas dan karung-karung
yang mereka punya dengan emas. Padahal ruangan itu hanya keluargaku dan
pelayan-pelayanku saja yang tahu. Aku jaga betul kerahasiaannya, dan aku kira
mereka akan menjalankan tugasnya dengan sempurna. Apa daya, ketika seseorang
berada dalam kesempitan, bukan hanya mereka mencari kesempatan, mereka juga
tidak membiarkan orang lain mendapat kesempatan yang sama. Aku tahu, karena
dulu aku juga sama seperti mereka.
Sekarang, semua yang kumiliki telah tiada. Martabatku
sebagai seorang raja, ditarik secara paksa oleh Dewi Fortuna. Seperti rambutku:
dulu selebat hutan, sekarang setandus gurun.
II.
IN FORTUNE SOLIO
SEDERAM ELATUS
PROSPERITATIS VARIO
FLORE CORONATUS
QUISQUID ENIM FLORUI
FELIX ET BEATUS
NUNC A SUMMO CORRUI
GLORIA PRIVATUS
SEDERAM ELATUS
PROSPERITATIS VARIO
FLORE CORONATUS
QUISQUID ENIM FLORUI
FELIX ET BEATUS
NUNC A SUMMO CORRUI
GLORIA PRIVATUS
Di takhta Fortuna
aku duduk
dengan gagah,
bermahkota
dengan
banyaknya
warna kemakmuran.
Kendati aku
telah berbunga
bahagia dan
diberkati,
kini aku
tumbang dari puncak;
dirampas
keagunganku.
KUINGAT
pertama kali aku merajai tanah ini. Aku dulu hanya orang biasa, tanpa kekayaan
apa-apa. Ibuku adalah seorang penenun, ayahku seorang pandai besi. Tiap hari
aku melihat mereka bekerja keras, memenuhi permintaan Sang Raja yang tamak dan
tak pernah puas. Sang Raja meminta kepada ibuku pakaian yang terindah untuk
selirnya. Namun, setiap kali ibuku memberinya pakaian paling cemerlang yang
pernah ia buat, Sang Raja menolaknya, dan memaksa dia untuk membuatnya lagi,
lagi, dan lagi. Sang Raja juga meminta kepada ayahku untuk membuat baju besi
terkuat untuk anaknya, Sang Pangeran. Sama dengan ibuku, setiap kali ayah
membuat baju besi paling kokoh seantero kerajaan, Sang Raja menolaknya. Ia
selalu mengulangi kata-kata yang sama: bahwa pekerjaan ini tidak dapat dia
terima.
Aku
berjuang keras sedari kecil untuk menjadi pelayan pribadinya. Dia melirikku
ketika aku masih kecil, tertarik dengan kemahiranku menggosok perhiasan hingga
sangat bersih, sampai berkilauan layaknya bintang fajar. Sang Raja akhirnya
memperkerjakanku. Pekerjaan pertamaku adalah menggosok mahkota dan takhta
emasnya sampai terlihat seperti baru dibuat. Pelan-pelan, aku naik ke atas,
dari penggosok, pembersih, pelayan, hingga akhirnya sebagai kepala pelayan.
Yang tentu saja merupakan jabatan tertinggi dalam rumah tangga istana setelah
keluarga raja. Aku telah menjadi seseorang yang sangat dipercaya olehnya dan
dianggap sebagai anak sendiri.
Namun,
aku tidak menganggap ia sebagai ayahku. Aku masih ingat betapa orang tuaku
tersiksa oleh permintaannya yang tak pernah habis.
Diam-diam,
aku melakukan konspirasi. Aku menghasut para pekerja rumah tangga untuk
melakukan kudeta. Caranya, aku menyisipkan sedikit racun yang kuminta dari
seorang penyihir ke dalam gelas minuman Sang Raja beserta keluarganya. Mereka
menyiapkan gelas-gelasnya, dan mereka memasukkan racun ke dalam masing-masing
gelas.
Aku
menghidangkan minuman tersebut dalam jamuan makan malam Sang Raja. Seharusnya ia
beserta seluruh keluarganya mati keracunan, namun aku tak mau itu berlangsung
terlalu lekas. Aku tidak ingin kemenanganku dibagi-bagi untuk para anak buahku
yang bodoh-bodoh itu. Sebelum keluarga Sang Raja minum, aku buru-buru
menghentikan mereka. Aku berpura-pura mencium aroma dari gelas Sang Raja, lalu
aku memberitahu bahwa minumannya telah diracun. Sang Raja terkejut dan
memintaku mencari siapa pelakunya. Aku, sebagai orang paling dipercaya olehnya,
menuduh seluruh anggota pekerja. Seketika itu, Sang Raja langsung mengusir
mereka dari istana dan tanah kerajaan. Mereka dibawa oleh kereta kuda pada
tengah malam, dan diturunkan di tengah hutan jauh dari sini.
Sekarang,
semua anggota kerajaan pergi. Di dalam istana hanya ada aku sendiri; ditemani
oleh Sang Raja dan keluarganya. Menyingkirkan mereka sekarang adalah hal yang
tak sulit bagiku. Besok paginya, setelah semuanya pergi, hanya aku sendiri yang
menyiapkan sarapan. Roti daging untuk sarapan mereka aku sisipi bubuk jamur
beracun. Mereka, dengan penuh kepercayaan kepadaku, memakan roti daging
tersebut. Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk menggeliat di atas lantai
marmer ruang makan istana.
Siang
itu pula, aku memberitakan bahwa Raja telah terbunuh. Ia dibunuh oleh sang
kepala pelayannya, yaitu aku sendiri.
Rakyat
pun bersorak gembira. Mereka tertawa, bernyanyi riang gembira. Warta dariku
adalah yang paling baik selama bertahun-tahun mereka tinggal di tanah ini.
Mereka mendamba-dambakan penguasa baru yang lebih memerhatikan keadaan
rakyatnya. Aku, yang lahir sebagai rakyat jelata, langsung disukai oleh mereka.
Mereka menganggapku sebagai seorang pahlawan, dan langsung menjadikanku Pemimpin
Agung.
Sebagai
seorang Pemimpin Agung, aku menggantikan posisi raja sebagai penguasa tertinggi
tanah ini. Urusan perpajakan, militer, pengadilan, pembuat peraturan, semuanya
jatuh kepadaku.
Aku
mewarisi seluruh kekayaan bekas majikanku. Aku duduk di atas kursi emas,
dihiasi oleh mahkota yang dilapisi tiga puluh jenis permata.
Aku
tak berniat merelakan harta baruku ini. Sebagai Pemimpin Agung, aku perlu
keturunan sebagai penerus takhta. Aku menikahi gadis tercantik di tanah ini.
Dengan pernikahan itu, aku dikaruniai tiga anak laki-laki dan tiga anak
perempuan.
Aku
berada di dalam keadaan yang tak pernah aku rasakan. Setiap hari aku makan
daging dan buah-buahan. Dan aku minum dari gelas perak berisi anggur terbaik
dari tanah ini. Aku membeli banyak perhiasan, perabotan, dan pernak-pernik dari
negeri seberang.
Aku
tak pernah berpikir aku dapat jatuh dari apa yang kupunya. Namun, Dewi Fortuna
berkata lain.
III.
FORTUNE ROTA VOLVITUR
DESCENDO MINORATUS
ALTER IN ALTUM TOLLITUR
NIMIS EXALTATUS
REX SEDET IN VERTICE
CAVEAT RUINAM
NAM SUB AXE LEGIMUS
HECUBAM REGINAM
DESCENDO MINORATUS
ALTER IN ALTUM TOLLITUR
NIMIS EXALTATUS
REX SEDET IN VERTICE
CAVEAT RUINAM
NAM SUB AXE LEGIMUS
HECUBAM REGINAM
Roda Fortuna
berputar;
aku jatuh
dalam kecelaan;
seorang lain berdiri
terlampau
tinggi.
Duduk sang
raja pada puncaknya
biarkan ia
jatuh!
Karena di
bawah sumbu tertulis
Ratu Hekuba.
TIGA
puluh tahun berlalu. Aku telah membeli banyak perhiasan untuk istriku, anakku,
menantuku, dan aku sendiri. Setiap hari aku makan daging anak domba, dipanggang
dan disajikan dengan sayuran lengkap. Tapi, aku tak pernah puas. Aku meminta
pajak yang tinggi dari rakyatku. Aku pastikan tidak ada yang tidak membayar
pajak. Begitu ada yang tidak membayar, pada malam hari aku porak-porandakan
rumahnya.
Sampai
akhirnya, rakyat muak dengan tingkahku. Aku, Pemimpin Agung dan seorang
pahlawan masa lalu, tak ada bedanya dengan raja pendahuluku. Mereka mengambil
peralatan mereka dan melawan pasukanku. Pasukanku, entah kenapa, tidak kuat
untuk menahan amarah rakyat. Sebagian dari mereka tumbang, sebagian yang lain
berbalik menyerang ke arahku.
Aku
tertahan di istanaku sendiri. Sebentar lagi, seseorang akan masuk ke dalam
istana, menyeretku keluar, dan memenggal kepalaku untuk diarak oleh rakyat. Sungguh,
perampasan kekuasaan ini, tak pernah berjalan damai.
Suara runtuhnya
gerbang depan istana menghentikan tangisan istriku untuk beberapa saat. Mereka
telah masuk, membawa senjata mereka dan obor-obor yang menyala. Mereka siap
untuk menyiksaku, membakarku hidup-hidup. Aku melihat sendiri istriku yang
telah menangis lama itu, dirobek-robek pakaiannya sampai tak berbentuk,
dipukul-pukul wajahnya sampai babak belur, diseret ke luar dengan ditarik
rambutnya.
Setelah istriku,
berikutnya aku. Aku sendiri dipukul keras-keras di kepala, sehingga aku tak dapat
melawan. Mereka merobek-robek bajuku, sehingga yang tersisa hanya pakaian
dalamku. Sepatuku diambil, tangan dan kakiku dikekang. Andai aku dapat melihat
cermin. Aku tak bisa membayangkan seberapa buruk rupaku. Seorang yang dulu
berjaya, sekarang menjadi sangat hina.
Aku dipertontonkan
oleh warga yang marah di depan istana. Dengan setengah telanjang dan muka babak
belur, aku hanya bisa berlutut. Istriku berada di sebelahku. Tangisannya tak
pernah berhenti, selalu mengucur layaknya sungai.
Dua prajurit, ya,
prajuritku sendiri, telah siap menghunuskan kedua pedangnya ke leherku. Aku
mendengar sorakan warga yang ingin melihat kepalaku terpenggal. Para petani,
pandai besi, penenun. Semuanya merelakan pekerjaannya hanya untuk ikut
menyaksikan tayangan publik ini.
Di antaranya semua orang
itu, ada satu yang memimpin sorakan mereka. Wajahnya tampak berwibawa namun
licik. Tampangnya sama sepertiku dulu. Ia menyorakkan kebebasan, namun aku
yakin yang ada di benaknya hanya kekuasaan.
Aku hanya bisa
tertawa. Ya, aku tertawa terbahak-bahak. Betapa lucunya dia. Dia harusnya tahu,
tidak lama lagi dia yang nanti berada di sini, mati dalam keadaan kotor.
Kebahagiaan, kemakmuran, kejayaan pasti akan hilang. Ketika dia sudah menikmati
nikmatnya kekuasaan, dia pelan-pelan akan menjadi tamak. Dan saat dia tamak,
warga yang marah tak akan tinggal diam.
Itulah Dewi Fortuna.
Sang Dewi yang gila, buta, dan bodoh. Ia berdiri di atas bola yang terus
berputar. Bola itu terus bergerak dari dorongan dari segala arah. Ia gila,
karena ia kejam dan tak teguh. Buta, karena ia tidak melihat arah yang ia tuju.
Bodoh, karena ia tak dapat membedakan mana yang layak dan mana yang tak layak.
Aku
masih lanjut tertawa ketika sang orator memerintahkan para prajurit untuk
memenggal kepalaku. Tepat pukul 12 siang, kepalaku lepas dari badannya. Ketika
mereka mengambil kepalaku untuk diarak, mereka keheranan lantaran aku mati
dalam keadaan tersenyum.
SELESAI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar