Selasa, 28 April 2020

RATAPAN LUKA FORTUNA


 I.
FORTUNE PLANGO VULNERA
STILLANTIBUS OCELLIS
QUOD SUA MIHI MUNERA
SUBTRAHIT REBELLIS
VERUM EST QUOD LEGITUR
FRONTE CAPILLATA
SED PLERUMQUE SEQUITUR
OCCASIO CALVATA

Aku meratapi luka Fortuna
dengan tangisan,
karena hadiah yang ia berikan
diambil kembali.
Telah ditulis dalam kebenaran,
Bahwa yang berambut indah,
kadang diikuti
dengan kebotakan.

TAK terbayang olehku bahwa yang seperti ini dapat terjadi. Semua yang pernah kudapat, seketika hilang. Semuanya. Hartaku, keluargaku, martabatku, rakyatku. Semua pergi menjauhiku layaknya ular di permukiman. Semua ingin melihatku terbunuh dengan kepala terpenggal dan tubuh yang telah dikuliti. Mereka ingin membakar sarangku, menyatai anak dan istriku, dan tentu saja memakan kami dengan lahap, dimasak di atas sarang kami sendiri.
Terus menerus kusesali tentang apa yang telah aku lakukan. Istriku menangis sampai matanya semerah darah. Tangisan dan teriakannya dapat terdengar di seluruh penjuru istana. Semua pelayan telah pergi, karena mereka memilih untuk meninggalkan istriku dibanding harus mendengar suaranya yang terdengar seperti ribuan pisau yang mengikis ribuan gelas. Anak-anakku tidak lebih baik. Mereka tak puas, dan apabila mereka tak puas, barang-barang pecah-belah dihancurkan mereka. Mulai dari vas bunga dari kerajaan timur sampai mangkok dari kerajaan barat, semuanya dipecahkan oleh mereka. Yang dulu tak ternilai, sekarang sudah tak berbentuk lagi. Mereka langsung pergi meninggalkanku bersama cucu-cucuku.
Pelayan-pelayanku tadi? Oh, mereka mengambil kesempatan. Mereka mengambil emas yang kusimpan di dalam ruang rahasia. Mereka masing-masing mengisi seluruh kantung-kantung dan tas-tas dan karung-karung yang mereka punya dengan emas. Padahal ruangan itu hanya keluargaku dan pelayan-pelayanku saja yang tahu. Aku jaga betul kerahasiaannya, dan aku kira mereka akan menjalankan tugasnya dengan sempurna. Apa daya, ketika seseorang berada dalam kesempitan, bukan hanya mereka mencari kesempatan, mereka juga tidak membiarkan orang lain mendapat kesempatan yang sama. Aku tahu, karena dulu aku juga sama seperti mereka.
Sekarang, semua yang kumiliki telah tiada. Martabatku sebagai seorang raja, ditarik secara paksa oleh Dewi Fortuna. Seperti rambutku: dulu selebat hutan, sekarang setandus gurun.
II.
IN FORTUNE SOLIO
SEDERAM ELATUS
PROSPERITATIS VARIO
FLORE CORONATUS
QUISQUID ENIM FLORUI
FELIX ET BEATUS
NUNC A SUMMO CORRUI
GLORIA PRIVATUS
 

Di takhta Fortuna
aku duduk dengan gagah,
bermahkota dengan
banyaknya warna kemakmuran.
Kendati aku telah berbunga
bahagia dan diberkati,
kini aku tumbang dari puncak;
dirampas keagunganku.

KUINGAT pertama kali aku merajai tanah ini. Aku dulu hanya orang biasa, tanpa kekayaan apa-apa. Ibuku adalah seorang penenun, ayahku seorang pandai besi. Tiap hari aku melihat mereka bekerja keras, memenuhi permintaan Sang Raja yang tamak dan tak pernah puas. Sang Raja meminta kepada ibuku pakaian yang terindah untuk selirnya. Namun, setiap kali ibuku memberinya pakaian paling cemerlang yang pernah ia buat, Sang Raja menolaknya, dan memaksa dia untuk membuatnya lagi, lagi, dan lagi. Sang Raja juga meminta kepada ayahku untuk membuat baju besi terkuat untuk anaknya, Sang Pangeran. Sama dengan ibuku, setiap kali ayah membuat baju besi paling kokoh seantero kerajaan, Sang Raja menolaknya. Ia selalu mengulangi kata-kata yang sama: bahwa pekerjaan ini tidak dapat dia terima.
Aku berjuang keras sedari kecil untuk menjadi pelayan pribadinya. Dia melirikku ketika aku masih kecil, tertarik dengan kemahiranku menggosok perhiasan hingga sangat bersih, sampai berkilauan layaknya bintang fajar. Sang Raja akhirnya memperkerjakanku. Pekerjaan pertamaku adalah menggosok mahkota dan takhta emasnya sampai terlihat seperti baru dibuat. Pelan-pelan, aku naik ke atas, dari penggosok, pembersih, pelayan, hingga akhirnya sebagai kepala pelayan. Yang tentu saja merupakan jabatan tertinggi dalam rumah tangga istana setelah keluarga raja. Aku telah menjadi seseorang yang sangat dipercaya olehnya dan dianggap sebagai anak sendiri.
Namun, aku tidak menganggap ia sebagai ayahku. Aku masih ingat betapa orang tuaku tersiksa oleh permintaannya yang tak pernah habis.
Diam-diam, aku melakukan konspirasi. Aku menghasut para pekerja rumah tangga untuk melakukan kudeta. Caranya, aku menyisipkan sedikit racun yang kuminta dari seorang penyihir ke dalam gelas minuman Sang Raja beserta keluarganya. Mereka menyiapkan gelas-gelasnya, dan mereka memasukkan racun ke dalam masing-masing gelas.
Aku menghidangkan minuman tersebut dalam jamuan makan malam Sang Raja. Seharusnya ia beserta seluruh keluarganya mati keracunan, namun aku tak mau itu berlangsung terlalu lekas. Aku tidak ingin kemenanganku dibagi-bagi untuk para anak buahku yang bodoh-bodoh itu. Sebelum keluarga Sang Raja minum, aku buru-buru menghentikan mereka. Aku berpura-pura mencium aroma dari gelas Sang Raja, lalu aku memberitahu bahwa minumannya telah diracun. Sang Raja terkejut dan memintaku mencari siapa pelakunya. Aku, sebagai orang paling dipercaya olehnya, menuduh seluruh anggota pekerja. Seketika itu, Sang Raja langsung mengusir mereka dari istana dan tanah kerajaan. Mereka dibawa oleh kereta kuda pada tengah malam, dan diturunkan di tengah hutan jauh dari sini.
Sekarang, semua anggota kerajaan pergi. Di dalam istana hanya ada aku sendiri; ditemani oleh Sang Raja dan keluarganya. Menyingkirkan mereka sekarang adalah hal yang tak sulit bagiku. Besok paginya, setelah semuanya pergi, hanya aku sendiri yang menyiapkan sarapan. Roti daging untuk sarapan mereka aku sisipi bubuk jamur beracun. Mereka, dengan penuh kepercayaan kepadaku, memakan roti daging tersebut. Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk menggeliat di atas lantai marmer ruang makan istana.
Siang itu pula, aku memberitakan bahwa Raja telah terbunuh. Ia dibunuh oleh sang kepala pelayannya, yaitu aku sendiri.
Rakyat pun bersorak gembira. Mereka tertawa, bernyanyi riang gembira. Warta dariku adalah yang paling baik selama bertahun-tahun mereka tinggal di tanah ini. Mereka mendamba-dambakan penguasa baru yang lebih memerhatikan keadaan rakyatnya. Aku, yang lahir sebagai rakyat jelata, langsung disukai oleh mereka. Mereka menganggapku sebagai seorang pahlawan, dan langsung menjadikanku Pemimpin Agung.
Sebagai seorang Pemimpin Agung, aku menggantikan posisi raja sebagai penguasa tertinggi tanah ini. Urusan perpajakan, militer, pengadilan, pembuat peraturan, semuanya jatuh kepadaku.
Aku mewarisi seluruh kekayaan bekas majikanku. Aku duduk di atas kursi emas, dihiasi oleh mahkota yang dilapisi tiga puluh jenis permata.
Aku tak berniat merelakan harta baruku ini. Sebagai Pemimpin Agung, aku perlu keturunan sebagai penerus takhta. Aku menikahi gadis tercantik di tanah ini. Dengan pernikahan itu, aku dikaruniai tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan.
Aku berada di dalam keadaan yang tak pernah aku rasakan. Setiap hari aku makan daging dan buah-buahan. Dan aku minum dari gelas perak berisi anggur terbaik dari tanah ini. Aku membeli banyak perhiasan, perabotan, dan pernak-pernik dari negeri seberang.
Aku tak pernah berpikir aku dapat jatuh dari apa yang kupunya. Namun, Dewi Fortuna berkata lain.
III.
FORTUNE ROTA VOLVITUR
DESCENDO MINORATUS
ALTER IN ALTUM TOLLITUR
NIMIS EXALTATUS
REX SEDET IN VERTICE
CAVEAT RUINAM
NAM SUB AXE LEGIMUS
HECUBAM REGINAM

Roda Fortuna berputar;
aku jatuh dalam kecelaan;
seorang lain berdiri
terlampau tinggi.
Duduk sang raja pada puncaknya
biarkan ia jatuh!
Karena di bawah sumbu tertulis
Ratu Hekuba.

TIGA puluh tahun berlalu. Aku telah membeli banyak perhiasan untuk istriku, anakku, menantuku, dan aku sendiri. Setiap hari aku makan daging anak domba, dipanggang dan disajikan dengan sayuran lengkap. Tapi, aku tak pernah puas. Aku meminta pajak yang tinggi dari rakyatku. Aku pastikan tidak ada yang tidak membayar pajak. Begitu ada yang tidak membayar, pada malam hari aku porak-porandakan rumahnya.
Sampai akhirnya, rakyat muak dengan tingkahku. Aku, Pemimpin Agung dan seorang pahlawan masa lalu, tak ada bedanya dengan raja pendahuluku. Mereka mengambil peralatan mereka dan melawan pasukanku. Pasukanku, entah kenapa, tidak kuat untuk menahan amarah rakyat. Sebagian dari mereka tumbang, sebagian yang lain berbalik menyerang ke arahku.
Aku tertahan di istanaku sendiri. Sebentar lagi, seseorang akan masuk ke dalam istana, menyeretku keluar, dan memenggal kepalaku untuk diarak oleh rakyat. Sungguh, perampasan kekuasaan ini, tak pernah berjalan damai.
Suara runtuhnya gerbang depan istana menghentikan tangisan istriku untuk beberapa saat. Mereka telah masuk, membawa senjata mereka dan obor-obor yang menyala. Mereka siap untuk menyiksaku, membakarku hidup-hidup. Aku melihat sendiri istriku yang telah menangis lama itu, dirobek-robek pakaiannya sampai tak berbentuk, dipukul-pukul wajahnya sampai babak belur, diseret ke luar dengan ditarik rambutnya.
Setelah istriku, berikutnya aku. Aku sendiri dipukul keras-keras di kepala, sehingga aku tak dapat melawan. Mereka merobek-robek bajuku, sehingga yang tersisa hanya pakaian dalamku. Sepatuku diambil, tangan dan kakiku dikekang. Andai aku dapat melihat cermin. Aku tak bisa membayangkan seberapa buruk rupaku. Seorang yang dulu berjaya, sekarang menjadi sangat hina.
Aku dipertontonkan oleh warga yang marah di depan istana. Dengan setengah telanjang dan muka babak belur, aku hanya bisa berlutut. Istriku berada di sebelahku. Tangisannya tak pernah berhenti, selalu mengucur layaknya sungai.
Dua prajurit, ya, prajuritku sendiri, telah siap menghunuskan kedua pedangnya ke leherku. Aku mendengar sorakan warga yang ingin melihat kepalaku terpenggal. Para petani, pandai besi, penenun. Semuanya merelakan pekerjaannya hanya untuk ikut menyaksikan tayangan publik ini.
Di antaranya semua orang itu, ada satu yang memimpin sorakan mereka. Wajahnya tampak berwibawa namun licik. Tampangnya sama sepertiku dulu. Ia menyorakkan kebebasan, namun aku yakin yang ada di benaknya hanya kekuasaan.
Aku hanya bisa tertawa. Ya, aku tertawa terbahak-bahak. Betapa lucunya dia. Dia harusnya tahu, tidak lama lagi dia yang nanti berada di sini, mati dalam keadaan kotor. Kebahagiaan, kemakmuran, kejayaan pasti akan hilang. Ketika dia sudah menikmati nikmatnya kekuasaan, dia pelan-pelan akan menjadi tamak. Dan saat dia tamak, warga yang marah tak akan tinggal diam.
Itulah Dewi Fortuna. Sang Dewi yang gila, buta, dan bodoh. Ia berdiri di atas bola yang terus berputar. Bola itu terus bergerak dari dorongan dari segala arah. Ia gila, karena ia kejam dan tak teguh. Buta, karena ia tidak melihat arah yang ia tuju. Bodoh, karena ia tak dapat membedakan mana yang layak dan mana yang tak layak.
Aku masih lanjut tertawa ketika sang orator memerintahkan para prajurit untuk memenggal kepalaku. Tepat pukul 12 siang, kepalaku lepas dari badannya. Ketika mereka mengambil kepalaku untuk diarak, mereka keheranan lantaran aku mati dalam keadaan tersenyum.


SELESAI.