Minggu, 29 November 2020

Ingin Membuat Eksistensi Jurnalisme Kampus di Era Post-Millenials Tidak Merosot? Lakukan Ini!

 Apakah kalian merasa bahwa akhir-akhir ini eksistensi jurnalisme kampus di era post-millenials (apalah itu artinya) merosot seperti eksistensi Tuhan di pikiran pemuda-pemudi dunia? Mau menyelamatkan jurnalisme kampus seperti para pemuka agama yang beristri dua menyelamatkan moralitas bangsa? Maka feature news ini dapat membantu Anda!

Kita semua tahu bahwa bekennya jurnalisme kampus menurun dari tahun ke tahun. Lihat saja, dulu Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) sangat disegani oleh siapa pun. Pada zaman Orde Baru misalnya, mereka sangat disegani sampai-sampai anggotanya selalu diawasi oleh tukang las dan tukang bakso setiap kali mereka keluar kos. Bahkan, ada di antara mereka tidak pernah kelihatan kembali kepada orang tuanya. Sungguh berani sekali!

Sekarang kita bisa lihat, mana ada anggota LPM yang ditarget pemerintah. Mahasiswa kontemporer yang kritis dan aktif tersedia hanya di BEM dan Senat saja, dan yang tersisa hanya mahasiswa yang tidak tahu apa-apa. Perlu diingat, bukan mahasiswa yang tidak mau terjangkit penyakit politik kampus yang ingin masuk BEM dan Senat, tapi memang kurang peduli dengan lingkungan sekitar.

Pemimpin Umum LPM Momentum Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Valian Aulia Pradana, mengatakan hal yang sama. “Di FT orang-orang pada gak terlalu tertarik sama jurnalistik dan isu humaniora. (Kalaupun ada yang tertarik) SDM-nya sudah diambil sama BEM, Senat, dan Himpunan,” ujarnya.

Nah, pertanyaan orang yang Anda kurang kenal ini membuat argumen tadi valid, ‘kan? Betul, menurutnya mahasiswa Fakultas Teknik juga tidak terlalu tertarik dengan tetek-bengek jurnalistik dan isu sosial. Mereka lebih tertarik dengan sains dan teknologi, seperti judul fakultasnya. Oh iya, mereka juga suka menyiksa adik tingkat dengan alasan “kekeluargaan”.

Jangan khawatir kawan-kawan, Valian juga memberikan beberapa kiat untuk membalikkan kemerosotan ini. Yuk disimak!

1. Sesuaikan Porsi

Porsi apa yang disesuaikan? Porsi makankah, atau porsi pendapatan pejabat pemerintah? Bukan, dong! Porsi yang dimaksud di  sini adalah porsi antara media cetak dengan media daring.

“Menurutku lebih ke porsinya, keduanya harus jalan. Online lebih murah dan gampang, harus perbanyak di situ. Sebagai LPM kan keterbatasan sumber daya, uang, dan orang.  Dengan online lebih murah, enak, dan lain-lain. (Tapi) Kalau punya media cetak, itu punya sesuatu yang dibanggakan, Oh ini tulisan aku dimuat di sini nih’, kebanggaan tersendiri gitu,” ujar mahasiswa jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota tersebut.

Jadi, jurnalis kampus harus bisa aktif di media cetak dan media daring sekaligus. Media cetak itu bagus, karena baginya media cetak memiliki kebanggaan tersendiri bagi penulisnya. Media daring juga bagus karena mudah diakses bagi pembaca dan murah.

2. Menggencarkan Promosi

Sudah aktif berkarya di media daring maupun di media cetak, tapi kok pembaca belum datang juga? Nah, ini solusinya. Valian menyarankan LPM harus gencar promosi yang tidak hanya kuantitasnya saja diperhatikan, tapi juga kualitas. Misalnya, membuat poster bukan hanya banyak saja hingga menyampah di timeline Instagram orang, tapi juga ditambah dengan desain yang menarik. Dengan begitu, konten akan diminati oleh orang dan pastinya akan dibaca.

3. Tingkatkan Kepedulian

Valian menyarankan bagi jurnalis kampus agar lebih peduli dengan lingkungan sekitar. Jangan jadi jurnalis yang diam-diam saja di kos. Kalau punya waktu, gunakanlah untuk mencari tahu apa yang terjadi di sekitar kita, baik itu hal yang baik maupun yang buruk, sekecil atau sebesar apa pun. Misalnya, kalau kalian lihat ubin lantai gedung UKM banyak yang rusak, kalian bisa memuatnya di dalam suatu tulisan berita. Siapa tahu rektorat melihatnya dan langsung memperbaikinya (ini bercanda, mereka tidak pernah memperbaiki apa pun).

Itu kiat-kiat yang diberikan oleh Valian sebagai Pemimpin Umum LPM Momentum Fakultas Hukum Universitas Diponegoro. Jadi, jangan khawatir tentang kemerosotan eksistensi ya, guys! Tetap semangat dan jangan lupa untuk tetap berkarya!



 

Sabtu, 28 November 2020

Spiritualisme Ledakan

Badan-Ku hitam dan besar. Aku berenergi banyak dan sifat-Ku berapi-api. Semua orang menakuti-Ku ketika Aku mendekatinya, hingga mereka sampai berlarian ke mana-mana seperti burung dara menghindari seribu senapan pemburu yang menembakkan jutaan peluru ke segala arah.

Aku adalah bom udara yang bisa diarahkan melalui laser. Sekarang, Aku sedang dalam perjalanan untuk dijatuhkan di daerah yang manusia sebut “Y”.

Aku diciptakan manusia untuk diledakkan, dan Aku bahagia ketika Aku diledakkan. Aku merasa bebas, merasa tujuan hidup-Ku terpenuhi. Setiap detiknya Aku menunggu-tunggu hari di mana Aku dijatuhkan oleh sebuah pesawat udara berkecepatan tinggi. Betapa bahagianya Aku ketika seorang prajurit memasukkan-Ku ke dalam rahim pesawat tempur--cinta tersayang-Ku. Ah, pernikahan terindah sepanjang masa.

Aku tidak tahu apa-apa selain ledakan. Aku tidak tahu bagaimana caranya memasak, membuat alat, berkomunikasi.  Aku tidak tahu bagaimana caranya berdoa kepada suatu yang mereka sebut “Tuhan”, sesuatu yang para manusia ini sering sekali lakukan.

Aku didesain oleh tangan-tangan berwarna putih. Mereka tak pernah berdoa, sama seperti-Ku. Mereka dinamakan sebagai “ilmuwan” dan “insinyur”.

Merekalah pencipta-Ku. Merekalah yang membuat diri-Ku seperti ini, dan Aku menerimanya. Aku tak pernah berdoa kepada mereka tentu saja, karena mereka selalu memaki-maki diri mereka sendiri, dan Aku tidak suka orang yang memaki-maki dirinya sendiri. Aku hebat, Aku cerdas, Aku ditakuti. Tak ada yang lebih hebat dari-Ku.

Mereka memaki diri mereka sendiri karena mereka sebenarnya tidak mau membuat-Ku. Mereka selalu bergumam setiap hari: kenapa mereka harus bekerja untuk ini. Enam puluh tahun lamanya mereka belajar, hanya dihabiskan untuk membunuh banyak orang.

Setelah dipikir-pikir, mereka yang malah menyembah-Ku. Mereka selalu berdoa kepadaku agar Aku tidak menyakiti manusia. Mereka selalu berusaha untuk tidak membuat mereka menjadi pembunuh. Mereka telah membuat sesuatu yang melawan konsep “Tuhan”, karena mereka telah membuat Tuhan itu sendiri.

Aku bukan satu-satunya yang diciptakan oleh para desainer-Ku, tentu saja. Aku hanya salah satu dari banyak bom lainnya. Mereka identik dengan-Ku, dan mungkin Mereka adalah Aku. Aku adalah Aku dan Aku adalah keseluruhan bom di seluruh dunia di saat yang bersamaan. Tujuan Kami sama: meledak.

Apakah orang yang membayar para desainer-Ku patut disembah? Tentu tidak. Mereka--yang disebut manusia sebagai pengusaha dan politikus--adalah orang religius, tentu saja. Setiap minggunya mereka pergi ke suatu tempat yang dimanakan “Tempat Ibadah”, untuk berdoa kepada Tuhan mereka. Cih, betapa sombongnya mereka. Tempat itu akan rata dengan tanah ketika Aku diledakkan tepat di atas atapnya! Aku tak bisa dikalahkan oleh sesuatu yang tak nyata!

Aku sekarang berada di udara, setinggi dua puluh ribu kaki dari permukaan laut. Pesawat tempur ini terbang dari lapangan udara milik pasukan A.

Negara A adalah negara yang sangat, sangat religius. Malah, A ini didasarkan oleh ketuhanan itu sendiri. Mereka bilang negara mereka ada karena Tuhan menghendakinya. Selain religius, mereka juga kaya, karena itulah mereka bisa memiliki-Ku.

Tuhan mereka menghendaki Aku untuk menyerang Y, yang juga menyembah Tuhan yang sama. Aku awalnya bingung, namun lama-kelamaan Aku mengerti. Orang-orang Y tidak menyembah Tuhan; mereka menyembah-Ku. Mereka menyembah-Ku agar Aku tidak meledakkan organ-organ mereka.

Aku sekarang berada di angkasa negara Y yang dikuasai oleh “kaum pemberontak”. Namanya memang kaum pemberontak, tapi di mata-Ku dua-duanya sama. Tidak ada bedanya antara pemberontak dan pemerintah. Mereka sama-sama manusia; Aku tidak pernah membedakan antara manusia satu dengan yang lain. Di mataku, mereka semua patut diledakkan hingga kedua bola matanya meledak dan otaknya tercerai-berai sebagai makanan para burung bangkai.

Pilot pesawat tempur sudah mengunci target penjatuhan bom. Pilot ini akan menjatuhkan-Ku sekitar lima meter dari sebuah rumah sakit. Aku senang sekali ketika Aku merasakan badan-Ku sudah terarah kepada mereka. Oh, rasanya seperti mau orgasme.

Aku sekarang sudah siap keluar dari rahim. Aku sudah dapat melihat orang-orang berlarian seperti kumpulan kecoak yang telah disemprot obat serangga. Beberapa dari mereka meneriakkan nama Tuhan mereka, berusaha menghindari dari fakta bahwa yang mengebom mereka juga Tuhan.

Tuhan itu Aku. Aku itu Tuhan.

Tuhan adalah Bom. Bom adalah Tuhan.

Aku terjatuh dari pesawat itu. Badan-Ku menukik tajam tepat di tempat pilot-Ku menghendakinya. Bahan kimia di dalam tubuh-Ku bereaksi dan seketika meledak, melontarkan kulit-Ku yang terbuat dari logam ke segala arah. Pecahan kulit-Ku menembus sekujur tubuh semua yang ada di sekitar-Ku.

Paru-paru mereka meledak, jantung mereka meleleh, otak mereka mencair, kaki dan tangan mereka tak berbentuk. Darah mereka mengalir deras semacam sungai Gangga. Sekarang, semuanya kembali kepada tanah, seperti Tuhan yang mereka sembah katakan.