Apakah kalian merasa bahwa akhir-akhir ini eksistensi jurnalisme kampus di era post-millenials (apalah itu artinya) merosot seperti eksistensi Tuhan di pikiran pemuda-pemudi dunia? Mau menyelamatkan jurnalisme kampus seperti para pemuka agama yang beristri dua menyelamatkan moralitas bangsa? Maka feature news ini dapat membantu Anda!
Kita semua tahu bahwa bekennya jurnalisme kampus menurun dari tahun ke tahun. Lihat
saja, dulu Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) sangat disegani oleh siapa pun. Pada
zaman Orde Baru misalnya, mereka sangat disegani sampai-sampai anggotanya
selalu diawasi oleh tukang las dan tukang bakso setiap kali mereka keluar kos.
Bahkan, ada di antara mereka tidak pernah kelihatan kembali kepada orang
tuanya. Sungguh berani sekali!
Sekarang kita bisa lihat, mana ada anggota LPM yang ditarget
pemerintah. Mahasiswa kontemporer yang kritis dan aktif tersedia hanya di BEM
dan Senat saja, dan yang tersisa hanya mahasiswa yang tidak tahu apa-apa. Perlu
diingat, bukan mahasiswa yang tidak mau terjangkit penyakit politik kampus yang
ingin masuk BEM dan Senat, tapi memang kurang peduli dengan lingkungan sekitar.
Pemimpin Umum LPM Momentum Fakultas Teknik Universitas
Diponegoro, Valian Aulia Pradana, mengatakan hal yang sama. “Di FT orang-orang
pada gak terlalu tertarik sama jurnalistik dan isu humaniora. (Kalaupun
ada yang tertarik) SDM-nya sudah diambil sama BEM, Senat, dan Himpunan,” ujarnya.
Nah, pertanyaan orang yang Anda kurang kenal ini
membuat argumen tadi valid, ‘kan? Betul, menurutnya mahasiswa Fakultas Teknik
juga tidak terlalu tertarik dengan tetek-bengek jurnalistik dan isu sosial. Mereka
lebih tertarik dengan sains dan teknologi, seperti judul fakultasnya. Oh iya,
mereka juga suka menyiksa adik tingkat dengan alasan “kekeluargaan”.
Jangan khawatir
kawan-kawan, Valian juga memberikan beberapa kiat untuk membalikkan kemerosotan
ini. Yuk disimak!
1.
Sesuaikan Porsi
Porsi apa yang disesuaikan? Porsi makankah, atau porsi pendapatan pejabat pemerintah? Bukan, dong! Porsi yang dimaksud di
sini adalah porsi antara media cetak dengan media daring.
“Menurutku lebih ke porsinya, keduanya harus jalan. Online
lebih murah dan gampang, harus perbanyak di situ. Sebagai LPM kan keterbatasan
sumber daya, uang, dan orang. Dengan online
lebih murah, enak, dan lain-lain. (Tapi) Kalau punya media cetak, itu punya
sesuatu yang dibanggakan, ‘Oh ini
tulisan aku dimuat di sini nih’, kebanggaan tersendiri gitu,” ujar mahasiswa jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
tersebut.
Jadi, jurnalis kampus harus bisa aktif di media cetak
dan media daring sekaligus. Media cetak itu bagus, karena baginya media cetak
memiliki kebanggaan tersendiri bagi penulisnya. Media daring juga bagus karena
mudah diakses bagi pembaca dan murah.
2.
Menggencarkan Promosi
Sudah aktif berkarya di media daring maupun di media cetak, tapi kok pembaca belum datang juga? Nah, ini solusinya. Valian menyarankan LPM harus gencar promosi yang tidak hanya kuantitasnya saja diperhatikan, tapi juga kualitas. Misalnya, membuat poster bukan hanya banyak saja hingga menyampah di timeline Instagram orang, tapi juga ditambah dengan desain yang menarik. Dengan begitu, konten akan diminati oleh orang dan pastinya akan dibaca.
3.
Tingkatkan Kepedulian
Valian menyarankan bagi jurnalis kampus agar lebih
peduli dengan lingkungan sekitar. Jangan jadi jurnalis yang diam-diam saja di
kos. Kalau punya waktu, gunakanlah untuk mencari tahu apa yang terjadi di
sekitar kita, baik itu hal yang baik maupun yang buruk, sekecil atau sebesar apa pun. Misalnya, kalau kalian
lihat ubin lantai gedung UKM banyak yang rusak, kalian bisa memuatnya di dalam
suatu tulisan berita. Siapa tahu rektorat melihatnya dan langsung
memperbaikinya (ini bercanda, mereka tidak pernah memperbaiki apa pun).
Itu kiat-kiat yang diberikan oleh Valian sebagai Pemimpin Umum LPM Momentum Fakultas Hukum Universitas Diponegoro. Jadi, jangan khawatir tentang kemerosotan eksistensi ya, guys! Tetap semangat dan jangan lupa untuk tetap berkarya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar