Bumi itu datar. Atau bulat, atau kubus. bisa juga kerucut.
Begitu aneh dunia ini. Bukan, bukan bentuknya, tapi apa yang tinggal di dalamnya.
Selama ini, orang berpendapat bumi itu bulat. Selama itu manusia bernapas, makan, minum, buang air, memiliki pekerjaan dan memiliki keturunan. Suatu saat, ada sekelompok orang mengatakan bahwa bumi itu datar. Selama itu pula manusia-manusia berjalan, duduk, dan tidur. Mereka saling berseteru, melontarkan argumen-argumen. Dari mulai ujung tiang kapal semakin rendah di penghujung lautan sampai ayat kitab suci yang menyebutkan bumi merupakan hamparan.
Selama mereka mengetik beribu-ribu kata saling menyerang satu sama lain, mereka tetap menjalankan tugasnya sebagai makhluk hidup dan manusia modern. Mereka tetap berdiri di bumi. mereka tetap disinari Matahari dari pagi sampai sore, dan ditemani rembulan ketika malam.
Selama mereka mempersalahkan hal ini, ada yang tidak ikut menikmati apa yang mereka lakukan. Anak-anak Afrika tidak peduli kalau bumi itu piringan bundar yang jatuh dengan akselerasi 9.8 meter per detik kuadrat dan menciptakan gravitasi. Anak-anak Papua juga tidak peduli kalau benua Antartika itu tidak ada, melainkan hanya sebagai pembatas agar penghuni bumi tidak jatuh ke angkasa bebas. Mereka hanya butuh makanan dan air minum. Mereka hanya butuh obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit parah yang mereka derita. Mereka hanya butuh sekolah yang akan membuat kehidupan mereka semakin baik. Mereka hanya butuh rasa empati dari manusia-manusia yang beruntung.
Karang-karang di lautan mulai memutih. Apa yang dulu indah sekarang seperti tulang-tulang kering belaka. Kicauan jalak bali tidak terdengar mengenakkan hati. Para jantan yang tersisa memanggil betina yang seolah-olah tidak akan ada. Sepertinya, alam sendiri pun tidak peduli akan bentuk bumi. Mereka mempunyai masalah yang lebih penting.
pada akhirnya, kehidupan tetap akan berjalan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar