Minggu, 29 November 2020

Ingin Membuat Eksistensi Jurnalisme Kampus di Era Post-Millenials Tidak Merosot? Lakukan Ini!

 Apakah kalian merasa bahwa akhir-akhir ini eksistensi jurnalisme kampus di era post-millenials (apalah itu artinya) merosot seperti eksistensi Tuhan di pikiran pemuda-pemudi dunia? Mau menyelamatkan jurnalisme kampus seperti para pemuka agama yang beristri dua menyelamatkan moralitas bangsa? Maka feature news ini dapat membantu Anda!

Kita semua tahu bahwa bekennya jurnalisme kampus menurun dari tahun ke tahun. Lihat saja, dulu Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) sangat disegani oleh siapa pun. Pada zaman Orde Baru misalnya, mereka sangat disegani sampai-sampai anggotanya selalu diawasi oleh tukang las dan tukang bakso setiap kali mereka keluar kos. Bahkan, ada di antara mereka tidak pernah kelihatan kembali kepada orang tuanya. Sungguh berani sekali!

Sekarang kita bisa lihat, mana ada anggota LPM yang ditarget pemerintah. Mahasiswa kontemporer yang kritis dan aktif tersedia hanya di BEM dan Senat saja, dan yang tersisa hanya mahasiswa yang tidak tahu apa-apa. Perlu diingat, bukan mahasiswa yang tidak mau terjangkit penyakit politik kampus yang ingin masuk BEM dan Senat, tapi memang kurang peduli dengan lingkungan sekitar.

Pemimpin Umum LPM Momentum Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Valian Aulia Pradana, mengatakan hal yang sama. “Di FT orang-orang pada gak terlalu tertarik sama jurnalistik dan isu humaniora. (Kalaupun ada yang tertarik) SDM-nya sudah diambil sama BEM, Senat, dan Himpunan,” ujarnya.

Nah, pertanyaan orang yang Anda kurang kenal ini membuat argumen tadi valid, ‘kan? Betul, menurutnya mahasiswa Fakultas Teknik juga tidak terlalu tertarik dengan tetek-bengek jurnalistik dan isu sosial. Mereka lebih tertarik dengan sains dan teknologi, seperti judul fakultasnya. Oh iya, mereka juga suka menyiksa adik tingkat dengan alasan “kekeluargaan”.

Jangan khawatir kawan-kawan, Valian juga memberikan beberapa kiat untuk membalikkan kemerosotan ini. Yuk disimak!

1. Sesuaikan Porsi

Porsi apa yang disesuaikan? Porsi makankah, atau porsi pendapatan pejabat pemerintah? Bukan, dong! Porsi yang dimaksud di  sini adalah porsi antara media cetak dengan media daring.

“Menurutku lebih ke porsinya, keduanya harus jalan. Online lebih murah dan gampang, harus perbanyak di situ. Sebagai LPM kan keterbatasan sumber daya, uang, dan orang.  Dengan online lebih murah, enak, dan lain-lain. (Tapi) Kalau punya media cetak, itu punya sesuatu yang dibanggakan, Oh ini tulisan aku dimuat di sini nih’, kebanggaan tersendiri gitu,” ujar mahasiswa jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota tersebut.

Jadi, jurnalis kampus harus bisa aktif di media cetak dan media daring sekaligus. Media cetak itu bagus, karena baginya media cetak memiliki kebanggaan tersendiri bagi penulisnya. Media daring juga bagus karena mudah diakses bagi pembaca dan murah.

2. Menggencarkan Promosi

Sudah aktif berkarya di media daring maupun di media cetak, tapi kok pembaca belum datang juga? Nah, ini solusinya. Valian menyarankan LPM harus gencar promosi yang tidak hanya kuantitasnya saja diperhatikan, tapi juga kualitas. Misalnya, membuat poster bukan hanya banyak saja hingga menyampah di timeline Instagram orang, tapi juga ditambah dengan desain yang menarik. Dengan begitu, konten akan diminati oleh orang dan pastinya akan dibaca.

3. Tingkatkan Kepedulian

Valian menyarankan bagi jurnalis kampus agar lebih peduli dengan lingkungan sekitar. Jangan jadi jurnalis yang diam-diam saja di kos. Kalau punya waktu, gunakanlah untuk mencari tahu apa yang terjadi di sekitar kita, baik itu hal yang baik maupun yang buruk, sekecil atau sebesar apa pun. Misalnya, kalau kalian lihat ubin lantai gedung UKM banyak yang rusak, kalian bisa memuatnya di dalam suatu tulisan berita. Siapa tahu rektorat melihatnya dan langsung memperbaikinya (ini bercanda, mereka tidak pernah memperbaiki apa pun).

Itu kiat-kiat yang diberikan oleh Valian sebagai Pemimpin Umum LPM Momentum Fakultas Hukum Universitas Diponegoro. Jadi, jangan khawatir tentang kemerosotan eksistensi ya, guys! Tetap semangat dan jangan lupa untuk tetap berkarya!



 

Sabtu, 28 November 2020

Spiritualisme Ledakan

Badan-Ku hitam dan besar. Aku berenergi banyak dan sifat-Ku berapi-api. Semua orang menakuti-Ku ketika Aku mendekatinya, hingga mereka sampai berlarian ke mana-mana seperti burung dara menghindari seribu senapan pemburu yang menembakkan jutaan peluru ke segala arah.

Aku adalah bom udara yang bisa diarahkan melalui laser. Sekarang, Aku sedang dalam perjalanan untuk dijatuhkan di daerah yang manusia sebut “Y”.

Aku diciptakan manusia untuk diledakkan, dan Aku bahagia ketika Aku diledakkan. Aku merasa bebas, merasa tujuan hidup-Ku terpenuhi. Setiap detiknya Aku menunggu-tunggu hari di mana Aku dijatuhkan oleh sebuah pesawat udara berkecepatan tinggi. Betapa bahagianya Aku ketika seorang prajurit memasukkan-Ku ke dalam rahim pesawat tempur--cinta tersayang-Ku. Ah, pernikahan terindah sepanjang masa.

Aku tidak tahu apa-apa selain ledakan. Aku tidak tahu bagaimana caranya memasak, membuat alat, berkomunikasi.  Aku tidak tahu bagaimana caranya berdoa kepada suatu yang mereka sebut “Tuhan”, sesuatu yang para manusia ini sering sekali lakukan.

Aku didesain oleh tangan-tangan berwarna putih. Mereka tak pernah berdoa, sama seperti-Ku. Mereka dinamakan sebagai “ilmuwan” dan “insinyur”.

Merekalah pencipta-Ku. Merekalah yang membuat diri-Ku seperti ini, dan Aku menerimanya. Aku tak pernah berdoa kepada mereka tentu saja, karena mereka selalu memaki-maki diri mereka sendiri, dan Aku tidak suka orang yang memaki-maki dirinya sendiri. Aku hebat, Aku cerdas, Aku ditakuti. Tak ada yang lebih hebat dari-Ku.

Mereka memaki diri mereka sendiri karena mereka sebenarnya tidak mau membuat-Ku. Mereka selalu bergumam setiap hari: kenapa mereka harus bekerja untuk ini. Enam puluh tahun lamanya mereka belajar, hanya dihabiskan untuk membunuh banyak orang.

Setelah dipikir-pikir, mereka yang malah menyembah-Ku. Mereka selalu berdoa kepadaku agar Aku tidak menyakiti manusia. Mereka selalu berusaha untuk tidak membuat mereka menjadi pembunuh. Mereka telah membuat sesuatu yang melawan konsep “Tuhan”, karena mereka telah membuat Tuhan itu sendiri.

Aku bukan satu-satunya yang diciptakan oleh para desainer-Ku, tentu saja. Aku hanya salah satu dari banyak bom lainnya. Mereka identik dengan-Ku, dan mungkin Mereka adalah Aku. Aku adalah Aku dan Aku adalah keseluruhan bom di seluruh dunia di saat yang bersamaan. Tujuan Kami sama: meledak.

Apakah orang yang membayar para desainer-Ku patut disembah? Tentu tidak. Mereka--yang disebut manusia sebagai pengusaha dan politikus--adalah orang religius, tentu saja. Setiap minggunya mereka pergi ke suatu tempat yang dimanakan “Tempat Ibadah”, untuk berdoa kepada Tuhan mereka. Cih, betapa sombongnya mereka. Tempat itu akan rata dengan tanah ketika Aku diledakkan tepat di atas atapnya! Aku tak bisa dikalahkan oleh sesuatu yang tak nyata!

Aku sekarang berada di udara, setinggi dua puluh ribu kaki dari permukaan laut. Pesawat tempur ini terbang dari lapangan udara milik pasukan A.

Negara A adalah negara yang sangat, sangat religius. Malah, A ini didasarkan oleh ketuhanan itu sendiri. Mereka bilang negara mereka ada karena Tuhan menghendakinya. Selain religius, mereka juga kaya, karena itulah mereka bisa memiliki-Ku.

Tuhan mereka menghendaki Aku untuk menyerang Y, yang juga menyembah Tuhan yang sama. Aku awalnya bingung, namun lama-kelamaan Aku mengerti. Orang-orang Y tidak menyembah Tuhan; mereka menyembah-Ku. Mereka menyembah-Ku agar Aku tidak meledakkan organ-organ mereka.

Aku sekarang berada di angkasa negara Y yang dikuasai oleh “kaum pemberontak”. Namanya memang kaum pemberontak, tapi di mata-Ku dua-duanya sama. Tidak ada bedanya antara pemberontak dan pemerintah. Mereka sama-sama manusia; Aku tidak pernah membedakan antara manusia satu dengan yang lain. Di mataku, mereka semua patut diledakkan hingga kedua bola matanya meledak dan otaknya tercerai-berai sebagai makanan para burung bangkai.

Pilot pesawat tempur sudah mengunci target penjatuhan bom. Pilot ini akan menjatuhkan-Ku sekitar lima meter dari sebuah rumah sakit. Aku senang sekali ketika Aku merasakan badan-Ku sudah terarah kepada mereka. Oh, rasanya seperti mau orgasme.

Aku sekarang sudah siap keluar dari rahim. Aku sudah dapat melihat orang-orang berlarian seperti kumpulan kecoak yang telah disemprot obat serangga. Beberapa dari mereka meneriakkan nama Tuhan mereka, berusaha menghindari dari fakta bahwa yang mengebom mereka juga Tuhan.

Tuhan itu Aku. Aku itu Tuhan.

Tuhan adalah Bom. Bom adalah Tuhan.

Aku terjatuh dari pesawat itu. Badan-Ku menukik tajam tepat di tempat pilot-Ku menghendakinya. Bahan kimia di dalam tubuh-Ku bereaksi dan seketika meledak, melontarkan kulit-Ku yang terbuat dari logam ke segala arah. Pecahan kulit-Ku menembus sekujur tubuh semua yang ada di sekitar-Ku.

Paru-paru mereka meledak, jantung mereka meleleh, otak mereka mencair, kaki dan tangan mereka tak berbentuk. Darah mereka mengalir deras semacam sungai Gangga. Sekarang, semuanya kembali kepada tanah, seperti Tuhan yang mereka sembah katakan.

Selasa, 28 April 2020

RATAPAN LUKA FORTUNA


 I.
FORTUNE PLANGO VULNERA
STILLANTIBUS OCELLIS
QUOD SUA MIHI MUNERA
SUBTRAHIT REBELLIS
VERUM EST QUOD LEGITUR
FRONTE CAPILLATA
SED PLERUMQUE SEQUITUR
OCCASIO CALVATA

Aku meratapi luka Fortuna
dengan tangisan,
karena hadiah yang ia berikan
diambil kembali.
Telah ditulis dalam kebenaran,
Bahwa yang berambut indah,
kadang diikuti
dengan kebotakan.

TAK terbayang olehku bahwa yang seperti ini dapat terjadi. Semua yang pernah kudapat, seketika hilang. Semuanya. Hartaku, keluargaku, martabatku, rakyatku. Semua pergi menjauhiku layaknya ular di permukiman. Semua ingin melihatku terbunuh dengan kepala terpenggal dan tubuh yang telah dikuliti. Mereka ingin membakar sarangku, menyatai anak dan istriku, dan tentu saja memakan kami dengan lahap, dimasak di atas sarang kami sendiri.
Terus menerus kusesali tentang apa yang telah aku lakukan. Istriku menangis sampai matanya semerah darah. Tangisan dan teriakannya dapat terdengar di seluruh penjuru istana. Semua pelayan telah pergi, karena mereka memilih untuk meninggalkan istriku dibanding harus mendengar suaranya yang terdengar seperti ribuan pisau yang mengikis ribuan gelas. Anak-anakku tidak lebih baik. Mereka tak puas, dan apabila mereka tak puas, barang-barang pecah-belah dihancurkan mereka. Mulai dari vas bunga dari kerajaan timur sampai mangkok dari kerajaan barat, semuanya dipecahkan oleh mereka. Yang dulu tak ternilai, sekarang sudah tak berbentuk lagi. Mereka langsung pergi meninggalkanku bersama cucu-cucuku.
Pelayan-pelayanku tadi? Oh, mereka mengambil kesempatan. Mereka mengambil emas yang kusimpan di dalam ruang rahasia. Mereka masing-masing mengisi seluruh kantung-kantung dan tas-tas dan karung-karung yang mereka punya dengan emas. Padahal ruangan itu hanya keluargaku dan pelayan-pelayanku saja yang tahu. Aku jaga betul kerahasiaannya, dan aku kira mereka akan menjalankan tugasnya dengan sempurna. Apa daya, ketika seseorang berada dalam kesempitan, bukan hanya mereka mencari kesempatan, mereka juga tidak membiarkan orang lain mendapat kesempatan yang sama. Aku tahu, karena dulu aku juga sama seperti mereka.
Sekarang, semua yang kumiliki telah tiada. Martabatku sebagai seorang raja, ditarik secara paksa oleh Dewi Fortuna. Seperti rambutku: dulu selebat hutan, sekarang setandus gurun.
II.
IN FORTUNE SOLIO
SEDERAM ELATUS
PROSPERITATIS VARIO
FLORE CORONATUS
QUISQUID ENIM FLORUI
FELIX ET BEATUS
NUNC A SUMMO CORRUI
GLORIA PRIVATUS
 

Di takhta Fortuna
aku duduk dengan gagah,
bermahkota dengan
banyaknya warna kemakmuran.
Kendati aku telah berbunga
bahagia dan diberkati,
kini aku tumbang dari puncak;
dirampas keagunganku.

KUINGAT pertama kali aku merajai tanah ini. Aku dulu hanya orang biasa, tanpa kekayaan apa-apa. Ibuku adalah seorang penenun, ayahku seorang pandai besi. Tiap hari aku melihat mereka bekerja keras, memenuhi permintaan Sang Raja yang tamak dan tak pernah puas. Sang Raja meminta kepada ibuku pakaian yang terindah untuk selirnya. Namun, setiap kali ibuku memberinya pakaian paling cemerlang yang pernah ia buat, Sang Raja menolaknya, dan memaksa dia untuk membuatnya lagi, lagi, dan lagi. Sang Raja juga meminta kepada ayahku untuk membuat baju besi terkuat untuk anaknya, Sang Pangeran. Sama dengan ibuku, setiap kali ayah membuat baju besi paling kokoh seantero kerajaan, Sang Raja menolaknya. Ia selalu mengulangi kata-kata yang sama: bahwa pekerjaan ini tidak dapat dia terima.
Aku berjuang keras sedari kecil untuk menjadi pelayan pribadinya. Dia melirikku ketika aku masih kecil, tertarik dengan kemahiranku menggosok perhiasan hingga sangat bersih, sampai berkilauan layaknya bintang fajar. Sang Raja akhirnya memperkerjakanku. Pekerjaan pertamaku adalah menggosok mahkota dan takhta emasnya sampai terlihat seperti baru dibuat. Pelan-pelan, aku naik ke atas, dari penggosok, pembersih, pelayan, hingga akhirnya sebagai kepala pelayan. Yang tentu saja merupakan jabatan tertinggi dalam rumah tangga istana setelah keluarga raja. Aku telah menjadi seseorang yang sangat dipercaya olehnya dan dianggap sebagai anak sendiri.
Namun, aku tidak menganggap ia sebagai ayahku. Aku masih ingat betapa orang tuaku tersiksa oleh permintaannya yang tak pernah habis.
Diam-diam, aku melakukan konspirasi. Aku menghasut para pekerja rumah tangga untuk melakukan kudeta. Caranya, aku menyisipkan sedikit racun yang kuminta dari seorang penyihir ke dalam gelas minuman Sang Raja beserta keluarganya. Mereka menyiapkan gelas-gelasnya, dan mereka memasukkan racun ke dalam masing-masing gelas.
Aku menghidangkan minuman tersebut dalam jamuan makan malam Sang Raja. Seharusnya ia beserta seluruh keluarganya mati keracunan, namun aku tak mau itu berlangsung terlalu lekas. Aku tidak ingin kemenanganku dibagi-bagi untuk para anak buahku yang bodoh-bodoh itu. Sebelum keluarga Sang Raja minum, aku buru-buru menghentikan mereka. Aku berpura-pura mencium aroma dari gelas Sang Raja, lalu aku memberitahu bahwa minumannya telah diracun. Sang Raja terkejut dan memintaku mencari siapa pelakunya. Aku, sebagai orang paling dipercaya olehnya, menuduh seluruh anggota pekerja. Seketika itu, Sang Raja langsung mengusir mereka dari istana dan tanah kerajaan. Mereka dibawa oleh kereta kuda pada tengah malam, dan diturunkan di tengah hutan jauh dari sini.
Sekarang, semua anggota kerajaan pergi. Di dalam istana hanya ada aku sendiri; ditemani oleh Sang Raja dan keluarganya. Menyingkirkan mereka sekarang adalah hal yang tak sulit bagiku. Besok paginya, setelah semuanya pergi, hanya aku sendiri yang menyiapkan sarapan. Roti daging untuk sarapan mereka aku sisipi bubuk jamur beracun. Mereka, dengan penuh kepercayaan kepadaku, memakan roti daging tersebut. Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk menggeliat di atas lantai marmer ruang makan istana.
Siang itu pula, aku memberitakan bahwa Raja telah terbunuh. Ia dibunuh oleh sang kepala pelayannya, yaitu aku sendiri.
Rakyat pun bersorak gembira. Mereka tertawa, bernyanyi riang gembira. Warta dariku adalah yang paling baik selama bertahun-tahun mereka tinggal di tanah ini. Mereka mendamba-dambakan penguasa baru yang lebih memerhatikan keadaan rakyatnya. Aku, yang lahir sebagai rakyat jelata, langsung disukai oleh mereka. Mereka menganggapku sebagai seorang pahlawan, dan langsung menjadikanku Pemimpin Agung.
Sebagai seorang Pemimpin Agung, aku menggantikan posisi raja sebagai penguasa tertinggi tanah ini. Urusan perpajakan, militer, pengadilan, pembuat peraturan, semuanya jatuh kepadaku.
Aku mewarisi seluruh kekayaan bekas majikanku. Aku duduk di atas kursi emas, dihiasi oleh mahkota yang dilapisi tiga puluh jenis permata.
Aku tak berniat merelakan harta baruku ini. Sebagai Pemimpin Agung, aku perlu keturunan sebagai penerus takhta. Aku menikahi gadis tercantik di tanah ini. Dengan pernikahan itu, aku dikaruniai tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan.
Aku berada di dalam keadaan yang tak pernah aku rasakan. Setiap hari aku makan daging dan buah-buahan. Dan aku minum dari gelas perak berisi anggur terbaik dari tanah ini. Aku membeli banyak perhiasan, perabotan, dan pernak-pernik dari negeri seberang.
Aku tak pernah berpikir aku dapat jatuh dari apa yang kupunya. Namun, Dewi Fortuna berkata lain.
III.
FORTUNE ROTA VOLVITUR
DESCENDO MINORATUS
ALTER IN ALTUM TOLLITUR
NIMIS EXALTATUS
REX SEDET IN VERTICE
CAVEAT RUINAM
NAM SUB AXE LEGIMUS
HECUBAM REGINAM

Roda Fortuna berputar;
aku jatuh dalam kecelaan;
seorang lain berdiri
terlampau tinggi.
Duduk sang raja pada puncaknya
biarkan ia jatuh!
Karena di bawah sumbu tertulis
Ratu Hekuba.

TIGA puluh tahun berlalu. Aku telah membeli banyak perhiasan untuk istriku, anakku, menantuku, dan aku sendiri. Setiap hari aku makan daging anak domba, dipanggang dan disajikan dengan sayuran lengkap. Tapi, aku tak pernah puas. Aku meminta pajak yang tinggi dari rakyatku. Aku pastikan tidak ada yang tidak membayar pajak. Begitu ada yang tidak membayar, pada malam hari aku porak-porandakan rumahnya.
Sampai akhirnya, rakyat muak dengan tingkahku. Aku, Pemimpin Agung dan seorang pahlawan masa lalu, tak ada bedanya dengan raja pendahuluku. Mereka mengambil peralatan mereka dan melawan pasukanku. Pasukanku, entah kenapa, tidak kuat untuk menahan amarah rakyat. Sebagian dari mereka tumbang, sebagian yang lain berbalik menyerang ke arahku.
Aku tertahan di istanaku sendiri. Sebentar lagi, seseorang akan masuk ke dalam istana, menyeretku keluar, dan memenggal kepalaku untuk diarak oleh rakyat. Sungguh, perampasan kekuasaan ini, tak pernah berjalan damai.
Suara runtuhnya gerbang depan istana menghentikan tangisan istriku untuk beberapa saat. Mereka telah masuk, membawa senjata mereka dan obor-obor yang menyala. Mereka siap untuk menyiksaku, membakarku hidup-hidup. Aku melihat sendiri istriku yang telah menangis lama itu, dirobek-robek pakaiannya sampai tak berbentuk, dipukul-pukul wajahnya sampai babak belur, diseret ke luar dengan ditarik rambutnya.
Setelah istriku, berikutnya aku. Aku sendiri dipukul keras-keras di kepala, sehingga aku tak dapat melawan. Mereka merobek-robek bajuku, sehingga yang tersisa hanya pakaian dalamku. Sepatuku diambil, tangan dan kakiku dikekang. Andai aku dapat melihat cermin. Aku tak bisa membayangkan seberapa buruk rupaku. Seorang yang dulu berjaya, sekarang menjadi sangat hina.
Aku dipertontonkan oleh warga yang marah di depan istana. Dengan setengah telanjang dan muka babak belur, aku hanya bisa berlutut. Istriku berada di sebelahku. Tangisannya tak pernah berhenti, selalu mengucur layaknya sungai.
Dua prajurit, ya, prajuritku sendiri, telah siap menghunuskan kedua pedangnya ke leherku. Aku mendengar sorakan warga yang ingin melihat kepalaku terpenggal. Para petani, pandai besi, penenun. Semuanya merelakan pekerjaannya hanya untuk ikut menyaksikan tayangan publik ini.
Di antaranya semua orang itu, ada satu yang memimpin sorakan mereka. Wajahnya tampak berwibawa namun licik. Tampangnya sama sepertiku dulu. Ia menyorakkan kebebasan, namun aku yakin yang ada di benaknya hanya kekuasaan.
Aku hanya bisa tertawa. Ya, aku tertawa terbahak-bahak. Betapa lucunya dia. Dia harusnya tahu, tidak lama lagi dia yang nanti berada di sini, mati dalam keadaan kotor. Kebahagiaan, kemakmuran, kejayaan pasti akan hilang. Ketika dia sudah menikmati nikmatnya kekuasaan, dia pelan-pelan akan menjadi tamak. Dan saat dia tamak, warga yang marah tak akan tinggal diam.
Itulah Dewi Fortuna. Sang Dewi yang gila, buta, dan bodoh. Ia berdiri di atas bola yang terus berputar. Bola itu terus bergerak dari dorongan dari segala arah. Ia gila, karena ia kejam dan tak teguh. Buta, karena ia tidak melihat arah yang ia tuju. Bodoh, karena ia tak dapat membedakan mana yang layak dan mana yang tak layak.
Aku masih lanjut tertawa ketika sang orator memerintahkan para prajurit untuk memenggal kepalaku. Tepat pukul 12 siang, kepalaku lepas dari badannya. Ketika mereka mengambil kepalaku untuk diarak, mereka keheranan lantaran aku mati dalam keadaan tersenyum.


SELESAI.


Rabu, 06 Desember 2017

Bumi itu Datar


Bumi itu datar. Atau bulat, atau kubus. bisa juga kerucut. 

Begitu aneh dunia ini. Bukan, bukan bentuknya, tapi apa yang tinggal di dalamnya. 

Selama ini, orang berpendapat bumi itu bulat. Selama itu manusia bernapas, makan, minum, buang air, memiliki pekerjaan dan memiliki keturunan. Suatu saat, ada sekelompok orang mengatakan  bahwa bumi itu datar. Selama itu pula manusia-manusia berjalan, duduk, dan tidur. Mereka saling berseteru, melontarkan argumen-argumen. Dari mulai ujung tiang kapal semakin rendah di penghujung lautan sampai ayat kitab suci yang menyebutkan bumi merupakan hamparan.

Selama mereka mengetik beribu-ribu kata saling menyerang satu sama lain, mereka tetap menjalankan tugasnya sebagai makhluk hidup dan manusia modern. Mereka tetap berdiri di bumi. mereka tetap disinari Matahari dari pagi sampai sore, dan ditemani rembulan ketika malam.

Selama mereka mempersalahkan hal ini, ada yang tidak ikut menikmati apa yang mereka lakukan. Anak-anak Afrika tidak peduli kalau bumi itu  piringan bundar yang jatuh dengan akselerasi 9.8 meter per detik kuadrat dan menciptakan gravitasi. Anak-anak Papua juga tidak peduli kalau benua Antartika itu tidak ada, melainkan hanya sebagai pembatas agar penghuni bumi tidak jatuh ke angkasa bebas. Mereka hanya butuh makanan dan air minum. Mereka hanya butuh obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit parah yang mereka derita. Mereka hanya butuh sekolah yang akan membuat kehidupan mereka semakin baik. Mereka hanya butuh rasa empati dari manusia-manusia yang beruntung.

Karang-karang di lautan mulai memutih. Apa yang dulu indah sekarang seperti tulang-tulang kering belaka. Kicauan jalak bali tidak terdengar mengenakkan hati. Para jantan yang tersisa memanggil betina yang seolah-olah tidak akan ada.  Sepertinya, alam sendiri pun tidak peduli akan bentuk bumi. Mereka mempunyai masalah yang lebih penting.

Bumi mengitari matahari, bulan, atau lapangan.
pada akhirnya, kehidupan tetap akan berjalan.